Tak ada puisi yang indah untuk semua cinta yang kau beri umi. Tak ada cinta sebesar yang kau beri. 18 tahun lamanya, surga kami berlima ada padamu. Sampai 2 dari kami harus berpindah surga pada suaminya. Kini sudah 22 tahun. Sesuai umurku, kau besarkan kami sepenuh cinta dengan sepenuh jiwa dan dengan syukur yang selalu kau panjatkan pada Tuhan yang Maha esa.
Kadang aku berfikir, mengapa tak sekalipun kau mengeluh. Merawat 5 anak yang pada saat Abu harus kembali pada-Nya masih berumur 9,8,6,4 tahun dan 72 hari, mengapa kau tak mengeluh?
Seluas apa Tuhan memberimu hati? Sebesar apa Tuhan memberimu kekuatan?
Hari ini kau kembali bercerita, tentang manisnya kisah cintamu dengan Abu. Bagaimana abu memberimu rasa aman di dunia dan akhirat, bagaiman abu memainkan peran sebagai suami, sahabat, juga benteng dalam setiap keadaan. Bagaimana abu mampu membuatmu bahkan "enggan" berfikir bahkan hanya "sekali" untuk mencari pendaping hidup selain abu.
Dalam setiap ceritamu, aku selalu mendengar kata syukur seperti "itulah, Allah sayang sama umi" atau jika ada sesuatu yang buruk "mungkin Allah beri cobaan untuk liat seberapa kuat umi"
Dan kupikir kau memang benar-benar kuat umi.
Kebesaran hatimu selalu membuatku tersanjung dan bangga memiliki ibu hebat dan sabar sepertimu.
Kau kadang bercerita tentang sifat buruk yang kami miliki dengan sejuta cinta di dalamnya. Tidak ada kata mengeluh. Hanya ada "mungkin ini ujian, biarpun sakit hati umi doakan kalian untuk lebih baik dan di maafkan Allah"
Bukankah ini benar-benar cinta sejati?
Dan begitulah ibu, seorang waniti yang terlihat lemah namun memiliki kebesaran hati yang mungkin tak bisa di tanggung oleh lelaki
Dibalik wajahmu yang mengerut. Di balik air matamu yang kau simpan diam-diam. Kau selalu menjadi kekuatan untuk kami.
Mungkin kau kehilangan cintamu, seseorang yang menompangmu, laki-laki yang menjadi surgamu, laki-laki yang ketika kau mengeluarkan kesal dan sifat wanitamu dan bahkan merajok akan memelukmu dan menciummu disertai kata-kata romantis yang membuat kau tersenyum dan lebih mencintainya.
Kami bersyukur, laki-laki itu Ayah kami, lelaki yang kini menyaksikan kisah kami berlima di alam lain.
Kami bersyukur, Abu mencintaimu dan berjuang keras untuk menikahimu agar kau tak di ambil lelaki lain pada masa itu (masa kau dan abu memperjuangkan cinta dalam ikatan yang sah). Syukurlah umi, Abu tidak salah dalam mencintai seseorang yang berhati besar dan penuh ketulusan.
Maaf umi, jika kami berlima tidak bisa membalas semua jasa dan cintamu.
Ku harap, Allah membalas segala cintamu dan pengorbananmu dengan Surga tertingginya, begitupun dengan Abu.
Untukmu Abu, percayalah umi adalah cinta dunia dan akhiratmu yang selalu mengajarkan kami tentang kejujuran, tidak menggilai harta, untuk terus rendah hati dan menolong orang lain, untuk menjaga hati orang lain di bandingkan hati kami, tentang pengorbanan, tentang bagaimana hidup untuk akhirat, tentang sabar, dan tentang bersyukur yang tak boleh terhenti.
Pada saat aku terpuruk dah mengeluh, umi tidak pernah memarahi atau mengabaikan keluhan kami. Hanya dengan "subhanallah, kiban di bie Allah nikmat yang luar biasa, gop hana tente lagee tanyoe neuk, bersyukur Allah dibie tanyor nikmat yang luar biasa lagee nyoe " artinya "subhanallah, gimana Allah kasi nikmat luar biasa buat kita nak, orang lain belum tentu seperti kita nak, bersyukur Allah kasi nikmat yang luar biasa seperti ini"
Dan itu sangat ampuh. Percayalah, mengingatkan akan akhirat, akan kebersyukuran, selalu menjadi poin penting yang selalu umi tanamkan di kepala kami.
Abu, percayalah. Kau memilih madrasah terbaik untuk kami. Ibu yang tegar dan selalu membanggakan.
Tak peduli seberat apapun, dia memikul semua dengan rasa syukur dan berserah pada Tuhan yang Maha mencintai dan Maha Pengampun.
Selasa, 3 Juli 2018
My Strong Mom