Selamat ulang tahun IBU NEGARAš„³
56 tahun kini, dikurangi dengan 22 tahun umurku, 34 tahun.
Benar, tepat ketika kau berumur 34 tahun usiamu kau menjadi single mother dan mulai mendidik merawat dan menjaga aku yang berusian 72 hari dan keempat kakakku lainnya yang berumur 4, 6,8, dan 9 tahun.
Terima kasih umi untuk segala
cinta yang kau beri.
Terima kasih menjadi role model terbaik.
Terima kasih menjadi madrasah yang paling apik.
Terima kasih telah memberi pendidikan dunia dan akhirat.
Telah menyerahkanku pada sekolah dan tempat pengajian.
Setiap hari tanpa henti membasuhku dengan kata-kata peringatan, kata-kata cinta, kisah-kisah nyata pada zaman Rasulullah, sehingga keluh menjadi malu, iri menjadi bersyukur, marah menjadi cinta.
Tak kau biarkan diri ini menjadi lupa pada Tuhan, tak kau biarkan melupakan tanah. Kematian selalu menjadi peringatan paling ampuh dalam ingatan. Kebaikan menjadi senjata untuk menutup segala keburukan yang pernah dilakukan. Jika di tanya umi mau apa dari kami, umi selalu menjawab “selalulah jadi sederhana, menegakkan tiang agama, menjadi baik dan bermanfaat, jangan iri dengan org lain, dan doakan Abumu” hanya itu.
Tak pernah sekalipun umi meminta untuk menjadi harta berlimpah, menjadi orang hebat di mata manusia.
Ah beruntung sekali,
Kami berlima tergolong anak yang taat aturan kehidupan. Tidak menjadi penjahat, tidak mencuri, tidak berlaku jahat pada orang lain, dan tidak mengikuti gaya-gaya orang lain.
Berlaku sesuai dengan kenyataan. Tak lebih tak kurang.
Kami berlima tergolong anak mandiri. Sebab sekalipun kami tak menangis di depan umi hanya karena merindukan Abu. Tidak sekalipun kami menangis karena uang jajan tak lebih banyak dari orang lain.
Ingin mengeluhpun, selesai mengeluh malu sendiri. Ketika umi bercerita bagaimana Tuhan memberi nikmat yang tak terkira. Bagaimana kehidupan umi, perjuangan beliau dalam mendidik kami. Hal itu seperti menampar diri, malu sekali hingga pada titik dimana tidak berani lagi mengeluh.
Tapi itu bukan berarti kami tidak terbuka pada umi. Kami tipe keluarga demokrasi. Dari kecil apapun masalahnya, apapun hal yang ingin di beli umi akan mengajak kami berdiskusi.
Kata umi “ini agar kalian tau kemana uang umi, apa aja yang umi lakuin, jadi jangan bilang umi ga beli ini itu”
Mungkin itu juga salah satu hal yang membuat kami menjadi tidak mengeluh. Itu juga yang menyadarkan aku tentang “terbuka” dan “komunikasi” menjadi kunci utama dalam sebuah hubungan antar ibu dan anak, adik kakak dan hubungan lain.
Bahkan aku hari ini bertany-tanya. Hal apa yang membuat kami berlima menjadi taat pada aturan.
Malam ini aku menjadi sadar, “kepercayaan” yang umi beri menjadi rantai semua.
Percayakah kamu mengecewakan orang yang percaya padamu itu lebih mengerikan dibanding dengan kehilangan orang tersebut. Kehilangan kepercayaan seperti kehilangan jiwa dan raga. Sedang kehilangan orang tersebut kehilangan raga namun jiwa selalu melekat, seperti kami yang kehilangan Abu.
Banyak pelajaran hidup yang di ajarkan umi yang tak di dapat di SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi.
Praktik Nilai-nilai moral, agama, ketulusan, ketegaran, kebersyukuran semua di ajarakam umi sejak kami dilahirkan.
Umi memberi cinta sepenuhnya kepada kami, selalu melantunkan doa untuk kami.
Isaknya di tahan diam-diam. Rindunya di pendam dalam keheningan malam.
Kok tau?
Sebab sejatinya, aku adalah teman tidurnya umi sejak lahir kedunia hingga kini. Sebab umi takut sendiri.
Tak hanya itu, sampai saat ini suapan umi masih terjadi, tak hanya untukku bahkan pada abang dan kakakku yang sudah menikahpun masih terjadi.
Kami tergolong anak yang manja, namun tau tempatnya. Bukan mengeluh karena tidak ada uang, tapi mengeluh “gak mau makan kalau umi ga suapin”. Sederhana, namun tak semua merasakannya.
Ahh, banyak cerita tentang umi.
Cukup malam ini,
Selamat ulang tahun ke 56 tahun ibu negaraku. Salam cinta dari anakmu yang kelima.
Ruhul Aflah binti Abdullah
AFLAH
Tempat hati bercerita. Tempat jiwa bermuara
Monday, December 24, 2018
Tuesday, July 3, 2018
Kau memilih Madrasah yang Tepat Abu~
Tak ada puisi yang indah untuk semua cinta yang kau beri umi. Tak ada cinta sebesar yang kau beri. 18 tahun lamanya, surga kami berlima ada padamu. Sampai 2 dari kami harus berpindah surga pada suaminya. Kini sudah 22 tahun. Sesuai umurku, kau besarkan kami sepenuh cinta dengan sepenuh jiwa dan dengan syukur yang selalu kau panjatkan pada Tuhan yang Maha esa.
Kadang aku berfikir, mengapa tak sekalipun kau mengeluh. Merawat 5 anak yang pada saat Abu harus kembali pada-Nya masih berumur 9,8,6,4 tahun dan 72 hari, mengapa kau tak mengeluh?
Seluas apa Tuhan memberimu hati? Sebesar apa Tuhan memberimu kekuatan?
Hari ini kau kembali bercerita, tentang manisnya kisah cintamu dengan Abu. Bagaimana abu memberimu rasa aman di dunia dan akhirat, bagaiman abu memainkan peran sebagai suami, sahabat, juga benteng dalam setiap keadaan. Bagaimana abu mampu membuatmu bahkan "enggan" berfikir bahkan hanya "sekali" untuk mencari pendaping hidup selain abu.
Dalam setiap ceritamu, aku selalu mendengar kata syukur seperti "itulah, Allah sayang sama umi" atau jika ada sesuatu yang buruk "mungkin Allah beri cobaan untuk liat seberapa kuat umi"
Dan kupikir kau memang benar-benar kuat umi.
Kebesaran hatimu selalu membuatku tersanjung dan bangga memiliki ibu hebat dan sabar sepertimu.
Kau kadang bercerita tentang sifat buruk yang kami miliki dengan sejuta cinta di dalamnya. Tidak ada kata mengeluh. Hanya ada "mungkin ini ujian, biarpun sakit hati umi doakan kalian untuk lebih baik dan di maafkan Allah"
Bukankah ini benar-benar cinta sejati?
Dan begitulah ibu, seorang waniti yang terlihat lemah namun memiliki kebesaran hati yang mungkin tak bisa di tanggung oleh lelaki
Dibalik wajahmu yang mengerut. Di balik air matamu yang kau simpan diam-diam. Kau selalu menjadi kekuatan untuk kami.
Mungkin kau kehilangan cintamu, seseorang yang menompangmu, laki-laki yang menjadi surgamu, laki-laki yang ketika kau mengeluarkan kesal dan sifat wanitamu dan bahkan merajok akan memelukmu dan menciummu disertai kata-kata romantis yang membuat kau tersenyum dan lebih mencintainya.
Kami bersyukur, laki-laki itu Ayah kami, lelaki yang kini menyaksikan kisah kami berlima di alam lain.
Kami bersyukur, Abu mencintaimu dan berjuang keras untuk menikahimu agar kau tak di ambil lelaki lain pada masa itu (masa kau dan abu memperjuangkan cinta dalam ikatan yang sah). Syukurlah umi, Abu tidak salah dalam mencintai seseorang yang berhati besar dan penuh ketulusan.
Maaf umi, jika kami berlima tidak bisa membalas semua jasa dan cintamu.
Ku harap, Allah membalas segala cintamu dan pengorbananmu dengan Surga tertingginya, begitupun dengan Abu.
Untukmu Abu, percayalah umi adalah cinta dunia dan akhiratmu yang selalu mengajarkan kami tentang kejujuran, tidak menggilai harta, untuk terus rendah hati dan menolong orang lain, untuk menjaga hati orang lain di bandingkan hati kami, tentang pengorbanan, tentang bagaimana hidup untuk akhirat, tentang sabar, dan tentang bersyukur yang tak boleh terhenti.
Pada saat aku terpuruk dah mengeluh, umi tidak pernah memarahi atau mengabaikan keluhan kami. Hanya dengan "subhanallah, kiban di bie Allah nikmat yang luar biasa, gop hana tente lagee tanyoe neuk, bersyukur Allah dibie tanyor nikmat yang luar biasa lagee nyoe " artinya "subhanallah, gimana Allah kasi nikmat luar biasa buat kita nak, orang lain belum tentu seperti kita nak, bersyukur Allah kasi nikmat yang luar biasa seperti ini"
Dan itu sangat ampuh. Percayalah, mengingatkan akan akhirat, akan kebersyukuran, selalu menjadi poin penting yang selalu umi tanamkan di kepala kami.
Abu, percayalah. Kau memilih madrasah terbaik untuk kami. Ibu yang tegar dan selalu membanggakan.
Tak peduli seberat apapun, dia memikul semua dengan rasa syukur dan berserah pada Tuhan yang Maha mencintai dan Maha Pengampun.
Selasa, 3 Juli 2018
My Strong Mom
Kadang aku berfikir, mengapa tak sekalipun kau mengeluh. Merawat 5 anak yang pada saat Abu harus kembali pada-Nya masih berumur 9,8,6,4 tahun dan 72 hari, mengapa kau tak mengeluh?
Seluas apa Tuhan memberimu hati? Sebesar apa Tuhan memberimu kekuatan?
Hari ini kau kembali bercerita, tentang manisnya kisah cintamu dengan Abu. Bagaimana abu memberimu rasa aman di dunia dan akhirat, bagaiman abu memainkan peran sebagai suami, sahabat, juga benteng dalam setiap keadaan. Bagaimana abu mampu membuatmu bahkan "enggan" berfikir bahkan hanya "sekali" untuk mencari pendaping hidup selain abu.
Dalam setiap ceritamu, aku selalu mendengar kata syukur seperti "itulah, Allah sayang sama umi" atau jika ada sesuatu yang buruk "mungkin Allah beri cobaan untuk liat seberapa kuat umi"
Dan kupikir kau memang benar-benar kuat umi.
Kebesaran hatimu selalu membuatku tersanjung dan bangga memiliki ibu hebat dan sabar sepertimu.
Kau kadang bercerita tentang sifat buruk yang kami miliki dengan sejuta cinta di dalamnya. Tidak ada kata mengeluh. Hanya ada "mungkin ini ujian, biarpun sakit hati umi doakan kalian untuk lebih baik dan di maafkan Allah"
Bukankah ini benar-benar cinta sejati?
Dan begitulah ibu, seorang waniti yang terlihat lemah namun memiliki kebesaran hati yang mungkin tak bisa di tanggung oleh lelaki
Dibalik wajahmu yang mengerut. Di balik air matamu yang kau simpan diam-diam. Kau selalu menjadi kekuatan untuk kami.
Mungkin kau kehilangan cintamu, seseorang yang menompangmu, laki-laki yang menjadi surgamu, laki-laki yang ketika kau mengeluarkan kesal dan sifat wanitamu dan bahkan merajok akan memelukmu dan menciummu disertai kata-kata romantis yang membuat kau tersenyum dan lebih mencintainya.
Kami bersyukur, laki-laki itu Ayah kami, lelaki yang kini menyaksikan kisah kami berlima di alam lain.
Kami bersyukur, Abu mencintaimu dan berjuang keras untuk menikahimu agar kau tak di ambil lelaki lain pada masa itu (masa kau dan abu memperjuangkan cinta dalam ikatan yang sah). Syukurlah umi, Abu tidak salah dalam mencintai seseorang yang berhati besar dan penuh ketulusan.
Maaf umi, jika kami berlima tidak bisa membalas semua jasa dan cintamu.
Ku harap, Allah membalas segala cintamu dan pengorbananmu dengan Surga tertingginya, begitupun dengan Abu.
Untukmu Abu, percayalah umi adalah cinta dunia dan akhiratmu yang selalu mengajarkan kami tentang kejujuran, tidak menggilai harta, untuk terus rendah hati dan menolong orang lain, untuk menjaga hati orang lain di bandingkan hati kami, tentang pengorbanan, tentang bagaimana hidup untuk akhirat, tentang sabar, dan tentang bersyukur yang tak boleh terhenti.
Pada saat aku terpuruk dah mengeluh, umi tidak pernah memarahi atau mengabaikan keluhan kami. Hanya dengan "subhanallah, kiban di bie Allah nikmat yang luar biasa, gop hana tente lagee tanyoe neuk, bersyukur Allah dibie tanyor nikmat yang luar biasa lagee nyoe " artinya "subhanallah, gimana Allah kasi nikmat luar biasa buat kita nak, orang lain belum tentu seperti kita nak, bersyukur Allah kasi nikmat yang luar biasa seperti ini"
Dan itu sangat ampuh. Percayalah, mengingatkan akan akhirat, akan kebersyukuran, selalu menjadi poin penting yang selalu umi tanamkan di kepala kami.
Abu, percayalah. Kau memilih madrasah terbaik untuk kami. Ibu yang tegar dan selalu membanggakan.
Tak peduli seberat apapun, dia memikul semua dengan rasa syukur dan berserah pada Tuhan yang Maha mencintai dan Maha Pengampun.
Selasa, 3 Juli 2018
My Strong Mom
Tuesday, April 10, 2018
inspirasi
inspirasi
aku percaya setiap pertemuan tidak ada yang membawa petaka
setiap kata yang muncul "ini karena dia, itu karena dia" hanyalah pembenaran diri saja
lebih tepatnya menyembunyikan petaka yang tercipta oleh dirinya
maksudku,setiap pertemuan adalah keberkahan yang nyata
pertemuan
ia kadang membuatmu belajar sesuatu yang tak pernah terfikir sebelumnya
ia kadang membuatmu mengerti bahwa kau tidak hidup sendiri
ia kadang membuatmu menyadari bahwa tidak semua pertemuan akan bertahan
tetapi, dalam kehidupan ada yang dimakan perpisahan
ia kadang membuatmu bersyukur bahwa dia yang dipertemukan padamu akan menjadi gerakan perubahan dalam hidupmu
kita tidak bisa memungkiri
keadaan kadang di luar kendali.
keadaan pula kadang yang membuat diri kita menjadi inspirasi.
jadi begini, setiap individu adalah inspirasi bagi orang lain
apakah karena tekadnya, kecantikannya, perjuangannya, atau "keadaan yang sama"
tidak ada petaka pada setiap insan
Tuhan menciptakan sesuai fitrah, hanya saja kegigihan Jin dalam menggoda manusia itu sesuai iman
setiap individu memiliki potensi untuk menjadi "angan-angan" orang lain
hargai hidupmu dengan kebersyukuran
jadilah pribadi yang menakjubkan
agar kau menjadi teladan
menjadi penggerak perubahan untuk kebaikan~
selasa, 10 April 2018
22:50
Monday, April 2, 2018
BUNTU
Buntu
bahkan tak ada kata yang keluar mengadu
ia sibuk berlalu dan meringkuk malu
sampai pada masa berubah rindu
sampai pada pertanyaan tak bermutu
sampai kau dan aku
menggeledah saku
mendobrak pilu
mencuri waktu
hanya untuk menoreh cerita sendu
sampai engkau enggan kembali ke masa lalu
masa indah nan lugu
namun sirna seperti debu
ditelan jerit kelabu
2 April 2018
senin
bahkan tak ada kata yang keluar mengadu
ia sibuk berlalu dan meringkuk malu
sampai pada masa berubah rindu
sampai pada pertanyaan tak bermutu
sampai kau dan aku
menggeledah saku
mendobrak pilu
mencuri waktu
hanya untuk menoreh cerita sendu
sampai engkau enggan kembali ke masa lalu
masa indah nan lugu
namun sirna seperti debu
ditelan jerit kelabu
2 April 2018
senin
Saturday, November 4, 2017
MENDUNG
hari ini
mendung mendampingi
hidup terkhianati
bukan sekali namun dua kali
pernahkah kau mengambil keputusan kemudian kau harap tak ada yang berubah dari keputusanmu
seharusnya memang begitu
namun, aku terlena dan bodoh
membodohi diri dan menyakiti diri
jadi begini, ketika masa-masa di sekolah dulu aku bertekad untuk tidak memiliki hubungan atau bahkan rasa "kau bagianku dan aku bagianmu"
lebih tepatnya aku tak ingin memiliki sahabat atau bahkan teman dekat
aku hanya ingin memiliki teman sekedar teman
tak lebih dan tak kurang
hanya sebatas kenalan
hanya sebatas iklan
lalu saat aku menduduki bangku perkuliahan
hati yang membatu terseret dalam debu yang di hasilkan tetesan kehangatan
bahkan jalanku berubah total
selain sahabat-sahabat susah senangku dulu, ini lebih hebat
aku menemukan 3 sahabat yang mungkin tak akan ku temukan lagi di dunia
bahkan surga maupun neraka
jika kau berbicara tentang kelekatan
kau tak akan menemukan kelekatan yang jauh lebih besar dibandingkan persahabatan kami,
oh benar, tak sebanding dengan kelekatan orang tua dengan anaknya hahaha
tetapi, maksudku begini
dalam perjalanannya, kami saling menguatkan satu sama lain
dan semakin jauh kami berjalan, maka semakin besar rintangan
namun tak ada yang bisa melepas kelekatan itu
tak ada
selalu bersama
merangkai cerita
menembus mimpi
mengitari gunung yang tinggi
melewati perjalanan hingga calang pidie
bersama
dan selalu bersama
dengan tawa
dengan saling menjaga
dengan hati yang bersatu dalam dansa
tapi kau tau
aku lupa akan sesuatu
seperti kedatangan orang dari "luar", hati manusia,takdir hidup, dan yang terpenting TUHAN
Kadang kala, harapan dan tempat mengeluh menjadi hilang arah
kadang kala, hati lara menjenguk luka
kadang kala, hati terbolak-balik meninggalkan cerita
sebagaimana aku di masa sekolah
aku kini mengalami hal yang lebih parah
aku selalu percaya, yang sejati akan kembali
namun yang terjadi adalah dalam hidup tak ada yang sejati
hanya Tuhan tempat kembali dan mengabdi
keluarga akan kembali pada saatnya
dan keluarga itu hanya yang mendasari darah dalam badan.
Jadi
aku kini kembali lagi pada fase menutup diri
menepi
dan berhenti
menanti
menuruni
sakit di hati
pada air mata yang pernah tumpah
pada tapak-tapak penunjuk arah
pada kehangatan yang berdarah
kuucapkan padamu terima kasih untuk segala nya
tumpah ruah
1 APRIL 2017
SABTU,
disudut rekaman hati
mendung mendampingi
hidup terkhianati
bukan sekali namun dua kali
pernahkah kau mengambil keputusan kemudian kau harap tak ada yang berubah dari keputusanmu
seharusnya memang begitu
namun, aku terlena dan bodoh
membodohi diri dan menyakiti diri
jadi begini, ketika masa-masa di sekolah dulu aku bertekad untuk tidak memiliki hubungan atau bahkan rasa "kau bagianku dan aku bagianmu"
lebih tepatnya aku tak ingin memiliki sahabat atau bahkan teman dekat
aku hanya ingin memiliki teman sekedar teman
tak lebih dan tak kurang
hanya sebatas kenalan
hanya sebatas iklan
lalu saat aku menduduki bangku perkuliahan
hati yang membatu terseret dalam debu yang di hasilkan tetesan kehangatan
bahkan jalanku berubah total
selain sahabat-sahabat susah senangku dulu, ini lebih hebat
aku menemukan 3 sahabat yang mungkin tak akan ku temukan lagi di dunia
bahkan surga maupun neraka
jika kau berbicara tentang kelekatan
kau tak akan menemukan kelekatan yang jauh lebih besar dibandingkan persahabatan kami,
oh benar, tak sebanding dengan kelekatan orang tua dengan anaknya hahaha
tetapi, maksudku begini
dalam perjalanannya, kami saling menguatkan satu sama lain
dan semakin jauh kami berjalan, maka semakin besar rintangan
namun tak ada yang bisa melepas kelekatan itu
tak ada
selalu bersama
merangkai cerita
menembus mimpi
mengitari gunung yang tinggi
melewati perjalanan hingga calang pidie
bersama
dan selalu bersama
dengan tawa
dengan saling menjaga
dengan hati yang bersatu dalam dansa
tapi kau tau
aku lupa akan sesuatu
seperti kedatangan orang dari "luar", hati manusia,takdir hidup, dan yang terpenting TUHAN
Kadang kala, harapan dan tempat mengeluh menjadi hilang arah
kadang kala, hati lara menjenguk luka
kadang kala, hati terbolak-balik meninggalkan cerita
sebagaimana aku di masa sekolah
aku kini mengalami hal yang lebih parah
aku selalu percaya, yang sejati akan kembali
namun yang terjadi adalah dalam hidup tak ada yang sejati
hanya Tuhan tempat kembali dan mengabdi
keluarga akan kembali pada saatnya
dan keluarga itu hanya yang mendasari darah dalam badan.
Jadi
aku kini kembali lagi pada fase menutup diri
menepi
dan berhenti
menanti
menuruni
sakit di hati
pada air mata yang pernah tumpah
pada tapak-tapak penunjuk arah
pada kehangatan yang berdarah
kuucapkan padamu terima kasih untuk segala nya
tumpah ruah
1 APRIL 2017
SABTU,
disudut rekaman hati
siklus
kenyataan yang menampar
sesungguhnya kau mati terkapar
olehmu atau oleh pilihanmu
sering kali kau membual tentang rindu
tentang sejatinya kekuatan bertahan
namun kau salah satu dari beribu
yang menatapku dalam satu waktu dan itu mematikan
tercabik dan membodohi diri hingga mati
membudakkan dengan cara mengasihani
lalu kembali lagi
kau terbodohi
oleh kekuatan yang paling hakiki
membawa hati
lalu kau tersiksa hingga mati
ampun
segera
setelah semua sirna
setelah semua yang ada
setelah semua berbunga
kematian menyapa
lalu daun-daun yang berwarna menyala berubah menjadi gelap gulita
kau mungkin mengira semua hanya alasan belaka
atau barangkali ini hanya hinaan dan kumpulan kesalahan yang disimpan hingga kobaran api meluap-luap hingga kita berada di jalan yang berbeda
kau mungkin lupa
tiap perbuatan adalah "kesalahan" yang kita terka
kemudian kilatan lidah berlomba-lomba tentang "kebenaran" siapa
kau lupa
setiap yang mengetahui "mengalah" harusnya jangan di kata
buat, dan mengetahui sesama
tentang keadaan yang memaksa
mungkin
suatu hari nanti
kita akan mengerti
barangkali ini bukanlah yang sejati
tak peduli dengan apapun
aku minta ampun
untuk berujung pada ikatan yang membuatku mati beruntun
setelah semua sirna
setelah semua yang ada
setelah semua berbunga
kematian menyapa
lalu daun-daun yang berwarna menyala berubah menjadi gelap gulita
kau mungkin mengira semua hanya alasan belaka
atau barangkali ini hanya hinaan dan kumpulan kesalahan yang disimpan hingga kobaran api meluap-luap hingga kita berada di jalan yang berbeda
kau mungkin lupa
tiap perbuatan adalah "kesalahan" yang kita terka
kemudian kilatan lidah berlomba-lomba tentang "kebenaran" siapa
kau lupa
setiap yang mengetahui "mengalah" harusnya jangan di kata
buat, dan mengetahui sesama
tentang keadaan yang memaksa
mungkin
suatu hari nanti
kita akan mengerti
barangkali ini bukanlah yang sejati
tak peduli dengan apapun
aku minta ampun
untuk berujung pada ikatan yang membuatku mati beruntun
Subscribe to:
Posts (Atom)
