Saturday, November 4, 2017

MENDUNG

hari ini
mendung mendampingi
hidup terkhianati
bukan sekali namun dua kali

pernahkah kau mengambil keputusan kemudian kau harap tak ada yang berubah dari keputusanmu
seharusnya memang begitu
namun, aku terlena dan bodoh
membodohi diri dan menyakiti diri

jadi begini, ketika masa-masa di sekolah dulu aku bertekad untuk tidak memiliki hubungan atau bahkan rasa "kau bagianku dan aku bagianmu"
lebih tepatnya aku tak ingin memiliki sahabat atau bahkan teman dekat

aku hanya ingin memiliki teman sekedar teman
tak lebih dan tak kurang
hanya sebatas kenalan
hanya sebatas iklan

lalu saat aku menduduki bangku perkuliahan
hati yang membatu terseret dalam debu yang di hasilkan tetesan kehangatan

bahkan jalanku berubah total
selain sahabat-sahabat susah senangku dulu, ini lebih hebat
aku menemukan 3 sahabat yang mungkin tak akan ku temukan lagi di dunia
bahkan surga maupun neraka

jika kau berbicara tentang kelekatan
kau tak akan menemukan kelekatan yang jauh lebih besar dibandingkan persahabatan kami,
oh benar, tak sebanding dengan kelekatan orang tua dengan anaknya hahaha
tetapi, maksudku begini
dalam perjalanannya, kami saling menguatkan satu sama lain
dan semakin jauh kami berjalan, maka semakin besar rintangan
namun tak ada yang bisa melepas kelekatan itu
tak ada
selalu bersama
merangkai cerita
menembus mimpi
mengitari gunung yang tinggi
melewati perjalanan hingga calang pidie
bersama
dan selalu bersama
dengan tawa
dengan saling menjaga
dengan hati yang bersatu dalam dansa


tapi kau tau
aku lupa akan sesuatu
seperti kedatangan orang dari "luar", hati manusia,takdir hidup, dan yang terpenting TUHAN

Kadang kala, harapan dan tempat mengeluh menjadi hilang arah
kadang kala, hati lara menjenguk luka
kadang kala, hati terbolak-balik meninggalkan cerita

sebagaimana aku di masa sekolah
aku kini mengalami hal yang lebih parah

aku selalu percaya, yang sejati akan kembali
namun yang terjadi adalah dalam hidup tak ada yang sejati
hanya Tuhan tempat kembali dan mengabdi

keluarga akan kembali pada saatnya
dan keluarga itu hanya yang mendasari darah dalam badan.

Jadi
aku kini kembali lagi pada fase menutup diri
menepi
dan berhenti

menanti
menuruni
sakit di hati

pada air mata yang pernah tumpah
pada tapak-tapak penunjuk arah
pada kehangatan yang berdarah

kuucapkan padamu terima kasih untuk segala nya



tumpah ruah

1 APRIL 2017
SABTU,
disudut rekaman hati


siklus

kenyataan yang menampar
sesungguhnya kau mati terkapar

olehmu atau oleh pilihanmu
sering kali kau membual tentang rindu
tentang sejatinya kekuatan bertahan
namun kau salah satu dari beribu 
yang menatapku dalam satu waktu dan itu mematikan

tercabik dan membodohi diri hingga mati
membudakkan dengan cara mengasihani
lalu kembali lagi

kau terbodohi
oleh kekuatan yang paling hakiki
membawa hati 
lalu kau tersiksa hingga mati

ampun

segera
setelah semua sirna
setelah semua yang ada
setelah semua berbunga

kematian menyapa
lalu daun-daun yang berwarna menyala berubah menjadi gelap gulita

kau mungkin mengira semua hanya alasan belaka
atau barangkali ini hanya hinaan dan kumpulan kesalahan yang disimpan hingga kobaran api meluap-luap hingga kita berada di jalan yang berbeda

kau mungkin lupa
tiap perbuatan adalah "kesalahan" yang kita terka
kemudian kilatan lidah berlomba-lomba tentang "kebenaran" siapa

kau lupa
setiap yang mengetahui "mengalah" harusnya jangan di kata
buat, dan mengetahui sesama
tentang keadaan yang memaksa


mungkin

suatu hari nanti
kita akan mengerti
barangkali ini bukanlah yang sejati

tak peduli dengan apapun
aku minta ampun
untuk berujung pada ikatan yang membuatku mati beruntun