Sunday, September 24, 2017

Tuhan semesta Alam

Pada patah-patah
Kupikir ini keterlaluan
Menyudutkan kebahagiaan
Menyela setiap perjuangan

Kian harap menguap
Menepis kasih Tuhan
Sekejap menghilang
Lalu kembali berimbang
Sekejap kemudian tinggi menjulang

Jejak kusut, menyulut ketidakbersyukuran

Kala nafas terjerat
Kala itu dengan menyebut nama-Nya bibir tersumbat

Kala nafas terbebas
Jiwa dan hati kerap merampas
Melupa pada tempat berpulang

Tangga menunggu
Naiki atau turuni
Atau berhenti

Sebab jelasnya
Hati kian mati
Saat benci menyelimuti

Kala itu ombak membunuh imajinasi
Langit menyadari
Aku tak sendiri
TUHANku maha mencintai♡

Pada-Nya ku berpulang
Pada-Nya dimiliki cahaya terang menderang




21 maret 2017

No comments:

Post a Comment