Aku akan berbicara tentangmu
Tentang masa lalu
Dan tentang suka dukaku dulu
Kau tau, dalam balutan yang paling hangat sekalipun. Hati yang sehangat dan membara mencintaimu menjadi beku di musim salju. Lebih beku dan tak menentu
Kau tau, rasa yang sangat kuat hingga aku terikat dalam rindu yang menyangat itu. Merintih kesakitan setiap malamnya.
Menuntut hati bersabuk pilu
Menahan amarah yang kerap menyakitiku
Kau tau, rasa yang ku sebut cinta itu. Kembali menikamku tepat di ulu hati. Cinta yang menguatkanku menjadi lemah dan aku menanggungnya dalam rintihan yang paling menggila
Kau tau. Aku terpuruk dan menjelajah ruang dan waktu yang begitu mengerikan. Tersudut di dalam harap. Tergeletak dan sekarat di sudut kegelapan.
Aku menanti. Berharap cintaku kembali. Dan harapku seperti belati. Menikam berkali-kali.
Kenyang dengan julukan. Tenggelam dalam senyummu yang mendebarkan
Aku tertawa. Berharap semua baik-baik saja. Lalu tawa pecahmu memecahkan tawa palsuku.
Mengembalikan luka yang menganga itu
Debaran untuk pertama kali dalam hidup. Dan pada itu semua aku tertipu oleh debaran-debaran yang mematikan, menohokku ke dalam jurang berkepanjangan. Hingga aku terhempas tepat di ujung kematian.
Kau tau, karena sesuatu yang ku sebut cinta itu. Aku menjadi pembenci utuk segala sesuatu yang kucintai. Aku menjadi pelari yang hebat untuk orang-orang yang menggenggamku dengan kuat. Aku menjadi pencaci pada cinta yang suci. Aku menjadi penyuka prediksi untuk masa depan yang kutakuti akan sama seperti masa kematianku sementara dulu di bumi
Aku menjadi memori akan janji yang diingkari. Sebab pada masa cinta itu milikmu, janji yang kita cipta bisa kau lepaskan begitu saja.
Kau tau. Kau kehilangan orang yang benar-benar mencintaimu. Mencemaskanmu. Mendoakanmu dalam setiap lima waktu. Yang paling berharap untuk kebahagiaanmu. Yang selalu mendukungmu di kala tak ada mata yang melihatmu. Yang jiwanya mati ketika kau pergi dengan semaumu.
Kau tau, kadang aku berfikir. Tentang kemungkinan bahwa aku yang tidak berjuang lebih. Atau sabar yang kian memudar. Namun nyatanya pada saat-saat sulit aku selalu bertahan dan menyayat hati hanya dengan kata " sebentar lagi. Satu hari lagi. Dan semua kembali baik-baik saja". Dan semua terbuang percuma saat satu keputusanmu yang tak bisa di ubah sama sekali.
Sekali, dan kau berhenti.
Sekali, dan kau pergi.
Sekali, dan kita menjadi asing kembali
Untuk memaafkan, kulakukan. Untuk menjadi teman, ingin kulanjutkan. Untuk melupakan, tidak akan.
Namun biarlah menjadi pengalaman dan kenangan~
Untukmu, terima kasih pernah menghidupkan sekaligus mematikan hati ini~
Sampai jumpa kembali pada kebahagian sejati, untukmu dan untukku yang dulu sempat saling memiliki.
****
No comments:
Post a Comment