Monday, February 27, 2017

KELOPAK MAWAR

Pada Tuhan dia menjerit
Menangis tak lagi dapat menahan sesak yang semakin sakit

Berdoa di dalam hatinya
Semoga Tuhan membuatnya mati rasa

Benar adanya. Penyesalan selalu di akhir
Ketika semua curah dan hati terhapus padahal dengan susah payah di ukir


Dia ingat mawar yang hampir layu di sudut kamarnya itu
Seperti halnya sebuah hubungan pada akhirnya layu dan mati

Satu hari baru. Tetapi dia sudah layu
Sama seperti hari-hari dimana semua tanpak semu

Dia bermimpi, beberapa tahun yang lalu
Pada mimpinya ada sepasang raksasa menyerang
Banyak mata yang melihatnya dengan tajam
Dia ketakutan, begertar-getar
Lalu mereka datang.
Katanya mereka di panggil dengan sahabat
Penyemangat dan penguat.

Semua takut berlari.
Digantikan dengan berani

Tak ada yang perlu di takutkan
Kecuali Tuhan
Tak ada kesendirian
Kecuali jika mereka pergi meninggalkan

Baik karena jabatan. Cinta. Atau kesibukan lainnya.


Ahhh ketika aku mengatakan, kau akan ditinggalkan. Percayalah

Dan dia hanya berkata dengan tegasnya.
" tak mungkin, kami terikat dan tak terpisahkan"

Kembali menjawab aku " kau tau mawar? Dia bisa membuatmu terluka. Dan bisa saja semua ikatan berubah jadi pembunuhmu ke jurang. Mawarpun jika kau rawat akan layu"


"Tak mungkin. Kau tau, ini petama kali aku menemukan sahabat sejati, bahkan cinta. Aku jamin, semua khawatirmu hanya akan menjadi mimpi" jawabnya

"Jangan seperti dulu, manusia tak akan pernah tetap sama saat bertemu. Seseorang yang paling kau harap bisa menjadi penguatmu atau pembunuhmu"
Kataku

"Kau lucu, kau bahkan tak mengenal dari salah satu. Mereka berbeda. Tak mungkin aku kecewa olehnya. Kau tau, seperti mimpiku, aku pernah di pedangi oleh mata-mata keji itu. Kau tau, awalnya aku goyah. Dan saat jari-jari mereka menyelip diantar jari-jariku, seperti tersihir aku tidak goyah sama sekali. Malah bahagia. Karena ku tau ada mereka. Aku boleh dong sombong memiliki orang-orang yang seperti itu"

Dan dia hanya tertawa, menunjukkan kebahagiaan memiliki mereka


Dan aku terdiam, merenung melihat kelopak mawar yang terjatuh itu~

No comments:

Post a Comment