Saturday, February 18, 2017

RAJA PENDUSTA

Ini menyakitkan.
Sungguh. Ini terlalu menyakitkan

Sakitnya sampai aku ingin berteriak hingga mati
Terlalu sakit, sampai air mata yang tumpah sejadi-jadinya tak mengurangi sakitnya.

Ini menyakitkan ketika kepercayaanmu di khianati.
Namun yang paling menyakitkan lagi, ketika dikhianati dan kau bangun dengan susah payah kepercayaan itu lagi
Dia mengkhianati lagi

Aku tertohok, tepat di ulu hati.
Kesakitan. Menangis dan meronta-ronta lalu menepi
Menutup diri dengan selimut tua dan berharap semua mimpi belaka.

Celaka
Aku menganggapnya tangan kananku.
Bisa saja ku jadikan ia sebagai kami kiri atau kaki kanan. Sebab percayaku yang dulu pernah di khianati.
Namun tidak ku lakukan. Ku jadikan ia tetap sama. Tangan kanan
Bahkan aku tak sudi jabatannya sebagai tangan kiri (meski pernah dibohongi)

Bersebab dia orang yang paling kuhargai
Paling kusayangi
Paling kupercayai

Bagaimana tidak. Bahkan saat yang lain memandangnya sebelah mata. Kutepiskan semua dan rela kehilangan apapun demi dia seorang saja

Mungkin terlihat berlebihan
Namun demi Tuhan. Disetiap doa ku sebut namanya. Ku kirim ia penjaga. Ku harap dia bahagia. Di mudahkan segalanya.

Meski dalam pertemuan yang kutunjukan marah saja, seolah tak peduli dengan keadaan buruk yang menimpanya.
Kulakukan hanya untuk tidak menambah beban. Dengan rengekan. Atau tangisan kerinduan

Di balik itu. Saat aku menepi dan sendri. Hatiku sakit, aku menangis, menahan semua siksa yang tak kutunjukkan
dan pada keadaan-keadaan sepeeti itu ingin sekali kupeluk ia menepuk pundaknya dan mengatakan "kau baik-baik saja. Ada aku disini. Kau telah melakukannya dengan baik"

Tapi nyatanya. Yang ku tunjukkan adalah masa bodohku . Ketidakpedulian dan seolah "mampus, itu urusanmu"
Dan untuk melakukan itu semua, aku tersiksa, berpura-pura mengabaikan.

Hanya saja. Aku bukan niat menunjukkan marahku. Aku hanya memperlihatkan padamu, bagaimanapun kesibukan dan keadaan  memaksaku untuk jauh, " aku selalu ada"
Lucunya, aku selalu berharap kehadiranku untukmu dapat menenangkanmu dari dunia kejam itu.
Nyatanya, kau malah tenang saat aku tak ada.
Terbukti dari sikapmu, menendanku seolah anjing penjaga. Yang ada dikala kau butuh dan jauh dikala kau jaya

Tentang kepura-puraan. Untuk kedua kali. Ini terlalu menyakitkan.

Namun apa daya.
Aku tak kuasa

Katanya
"Keadaan merubahnya.
Keadaan memaksa."
Ahh bagiku itu alasan saja
Hanya siapa yang paling utamaa


Sebab aku sendiri seharusnya yang akan pergi.
Namun sampai kini, tak seharipu  berlalu tanpa melihat ia sekali.

Seharusnya keadaanku membuat aku semakin jauh.
Namun tidak
Aku selalu bersama mereka

Sampai kekuasaan dan waƱita mengubah segalanya.




Salam rindu,

Angel

No comments:

Post a Comment