pada siang yang kemarau
pada pikiran yang kacau
pada bisikan-bisikan yang terus berkicau
jiwa ini terus berkelana dong
menelusuri isi buah kepala si gondrong
yang taunya menggonggong
lalu bisanya menodong
dikiranya aku odong-odong
nenek sihir bergigi ompong
dengan mulut monyong
tak sombong
tapi aku ini penyongsong
meski pistolmu menodong
tak apa
kita tertawa saja
menikmati semua serpih di jiwa
menikmati setiap drama
yang kau cipta
tak apa
aku baik-baik saja
hanya menjalani seperti yang kau pinta
hanya saja lepaskan dia
sandera yang kau ikat disanaa
jangan menyiksa
apalagi dengan kata-kata
sebab kini kata lebih menusuk di bandingkan jarum
membuatku tersenyum
dan terkagum-kagum
seolah harum
nyatanya siksa yang terkulum
ahh
tak apa
sudah biasa
yang ku anggap
selalu saja salah tangkap
yang ku sayang
selalu saja menyerang
yang ku pikir setia
selalu saja melangkah kesana
ke tempat yang tak bisa ku jangkau
terdengar bisikan-bisikan yang bekicau
terlena pada pikiranku yang kacau
kuceritakan semua pada siang yang kemarau
No comments:
Post a Comment