Air menjatuhi bumi
membasahi setiap jiwa yang belum terobati
perih, merasuk hingga ke ulu hati
mecoba mengerti
namun tak bisa terkendali
damai dan tentram
tanah yang basah menginggatkan pada masa kelam
dalam pikir yang tajam
terbawa pada ingatan yang dalam
saat itu terik menghujam
menembus lapis-lapis kulit hitam
wajahnya kusam
seolah menunjukkan betapa pikirannya buram
terpaku
berdiam diri dalam jemu
berkutat pada untaian kalbu
padamu
terus kau patuk
membuatku mengutuk
setelah itu kau tunjuk
padahal sakitmu hanya batuk
menyatu
hingga hati biru-biru
bersebab sakit yang terus mengadu
bersebab rindu yang tak kunjung laku
bersebab khawatir yang tak pernah kau tau
padamu
ketahuilah dalam sibuk yang tercipta
ada pikiran yang merajalela
tentang kau yang kini "tak ada"
bersebab ke"ada"an mu yang kini tak ada
bersebab ke"ada"anmu yang menjadi langka
bersebab ke"Ada"an hilang karena keadaan jua
No comments:
Post a Comment